Kamis, 26 Januari 2012

HARUSNYA KITA PARA PENDIDIK " MENANGIS DAN BERDUKA".

SEBUAH CATATAN BUAT PARA PENDIDIK.

Wahai Bapak dan Ibu Guru...!
sebagai seorang pendidik tentu bapak dan ibu Guru mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak ringan. Selain mentransfer ilmu pengetahuan kepada murid, kalian juga adalah seorang yang memberi contoh dan tauladan tentang moral, etika dan agama. Masih sempatkan kalian mengajarkan semua itu kepada anak didik Anda?

Wahai bapak dan Ibu Guru..
Tentu jawaban nya adalah kurang sempat. Karena Guru sekarang dituntut untuk menyelesaikan materi yang ada di kurikulum, bagaimanapun situasinya. Selain itu, juga dituntut agar anak didiknya mahir mengerjakan soal soal ujian, agar bisa lulus dengan nilai terbaik, dan bisa diterima di sekolah atau Perguruan Tinggi favorit.
Apakah hanya itu tugas Guru? Tentu tidak! Masih banyak lagi tugas Guru, yaitu meningkatkan kompetensi dan Kwalitas diri nya, agar bisa lulus dalam sertifikasi Guru, demi menambah penghasilan untuk biaya kehidupan nya. Selain itu Guru masih dituntut untuk menjalin hubungan yang erat dan kontinyu dengan wali murid, pemuka masyarakat, dan seluruh komponen maayarakat, yg bisa membantu peningkatan mutu pendidikan.

Dengan tugas sebanyak itu, bagaimana mereka akan mampu mengajarkan moral, etika dan nilai nilai keagamaan kepada anak didik? jangankan mengajarkan, memberi contoh saja sudah kewalahan. Entah krn stres akibat tugas dan tanggung jawab yang berlebihan, banyak Guru yang mencari hiburan dengan mengadakan hubungan terlarang, selingkuh dengan rekan sejawat maupun dengan
pegawai di instansi lain.

Dari segi kejujuran, mereka pun banyak yang tidak mampu memberi contoh atau teladan.
Dalam sertifikasi, misalnya. Banyak diantara Guru yang tidak jujur, mengcopy, menjiplak dan menggunakan karya orang lain, serta menyuruh membuatkan orang lain untuk karya karya
ilmiahnya. Apabila ada test kompetensi, mereka banyak yang mencari contekan....atau jawaban dari orang lain.

Dengan kondisi yang demikian.....bagaimana Kwalitas murid yang dihasilkan nya,bila mereka terjun di masyarakat?
Kalau sekarang banyak remaja yang tawuran, pergaulan bebas, minuman keras, obat obat terlarang, siapakah yang harus disalahkan?
Kalau sekarang banyak pejabat yang korup, dan Wakil Rakyat yang tidak peka akan penderitaan rakyatnya, yang suka foya foya serta menghabiskan uang Negara....Siapakah yang disalahkan?

Tentu bapak dan ibu Guru tidak mau disalahkan. Bukan Guru satu satunya pendidik bagi anak, mereka bisa terpengaruh dimana saja, di rumah, dilingkungan pergaulan atau masyarakat dimana dia tinggal.
Namun coba kita bertanya pada nurani kita masing masing...apakah pejabat yang korup itu dulu tidak pernah menjadi murid? Apakah para wakil Rakyat kita juga tidak pernah menjadi murid? Apakah para penegak hukum yang tidak adil yang menjual kebenaran dengan uang juga tidak pernah didik sebagai murid oleh para Guru? Apakah remaja kita yang Suka dugem, tawuran dan narkoba itu juga tidak pernah menjadi murid ?

Jawabnya...mereka semua pernah menjadi murid para Guru baik di tingkat pra sekolah, sekolah dasar, menengah, atas maupun Prrguruan Tnggi.
Wahai bapak dan ibu Guru, mari kita menangis untuk semua permasalahan bangsa yang diakibatkan oleh kurangnya pendidikan moral, etika dan agama..! Mari kita mencoba menelaah, kenapa pendidikan jaman kita kecil dulu lebih baik dalam menanmkan moral? Guru pun lebih dihormati oleh muridnya, daripada kita sekarang. Kenapa? Dan apa penyebabnya?

Mungkin kita tidaknada waktu untuk mengkaji kenapa? Nmun setidaknya marilah kita ikut prihatin dengan Kwalitas anaka didik yang kita hasilkan, yang lebih menonjolkan kepandaian akademik atau kognitif saja. Sedangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual nya tidak ter asah dengan baik.

Mati menangis bersama sama ..untuk anak didik kita, yang menghalalkan segala cara asal tujuan tercapai. Mari kita berduka, untuk anak didik kita yang tidak memperhatikan moral sama sekali, hanya memburu kesenangan semata.
Kita hanya bisa menangis dan berduka. Karena tidak ada yang bisa kita lakukan...pemegang otoritas pendidikan, harus nya yang paling berdiri di garda depan. Untuk merumuskan perencanan pendidikan secara matang, Terukur dan holistik. Jangan gampang mengeluarkan peratuan tentang pendidikan, bila tdk ditindak lanjuti dengan arahan dan penilaian dalam implementasinya.

Meski begitu, masih ada yang bisa dilakukan Guru ditengah keterbatasan nya, yaitu mengajar dengan sungguh sungguh, dengan penuh kecintaan, menghormati murid sebagai pribadi yang pantas dihormati, dengan demikian akan timbul rasa hormat di hati anak didik kita kepada guru. Kalau sudah hormat, maka akan mudah bagi kita mengajarkan hal hal yang baik kepada mereka.
Mari kita sayangi murid kita, seperti kita menyayangi anak anak kita sendiri. Dengan begitu merekapun akan sayang dan hormat pada kita.

Jumat, 20 Januari 2012

PROBLEM ORANG TUA DAN ANAK...

Perbedaan Cara Pandang Orang Tua dan Anak.

Beda usia, beda generasi...pastilah ada kesenjangan cara berpikir orang tua dan anak. Lalu apa yang harus dilakukan bila ada kesenjangan yang lebar antara kita orang tua dengan anak anak kita?
haruskah orang tua yg selalu menang dan anak yang harus menurut? Ataukah anak yang selalu menang dan orang tua yang mengikuti?
Kedua hal tersebut tentu bukan pilihan yang bijak, terlalu ekstrim. Kalau dilakukan justru akan menimbulkan kesenjangan yang lebar dan perdebatan yang tak pernah usai.

Anak anak kita, memang kita yg melahirkan, merawat dan mendidik nya menjadi dewasa. namun bukan berrati kita yang berhak menentukan segalanya atas masa depannya. Kadang memang ada anak yang tidak begitu bisa berpikir jauh kedepan, yang dilihat sekarang, yang didepan mata. Sementara....orang tua mampu melihat jauh kedepan karena pengalaman hidup nya yg lebih panjang daripada anak anak nya. inilah biasanya menjadi titik awal konflik antara orang tua dan anak.

Lalu bagaimana sikap terbaik orang tua bila terjadi konflik dengan anak?
Bicarakan dari hati kehati. Orang tua mau duduk bersama, dan anak juga mau menahan egonya.
Kalau ini mampu dilakukan, separuh masalah sdh bisa diatasi. Masalahnya adalah amat sulit membuat orang tua dan anak yg sdh bermasalah untuk bisa duduk bersama membicarakan masalah dari hati ke hati, dan berpikir jernih untuk melihat kepentingan masing masing. Kalau orang tua maupun anak mampu berpikir dan melihat dari sisi yang dihadapi, Insyaalloh bisa dibicarakan dan diselesaikan dengan baik.

Orang tua cobalah mau mengalah untuk memposisikan diri sebagai anak, dan anak mau menurunkan egonya, agar bisa memahami harapan orang tuua dan mampu menangkap maksud dan tujuan orang tua. Sehingga akan dicapai titik temu dari permasalahan yang ada.
Tidak ada satupun orang tua yang mau mencelakakn anak bukan? Kalaupun toh pemikiran orang tua seolah tidak sejalan dengan pemikiran anak, maka cari tahu dulu apa maksud dibalik kata kata keras orang tua.

Tidak ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan....kuncinya adalah HATI. Apakah memang berniat menyelesaikan atau tidak. Kalau Hati sudah berkehendak untuk menyelesaikan masalah, maka jalan akan terbuka lebar.
Karena itu mari kita bertanya pada hati kita masing masing, sebelum menyalahkan pukau lain dari permasalahan yang kita hadapi saat ini.